Kembali ke Blog

Apakah Air Sumur Perlu Didisinfeksi? Panduan Lengkap Kapan, Mengapa, dan Hal yang Perlu Diketahui

Author : Admin User|5 Agustus 2026|5 Menit Dibaca
Apakah Air Sumur Perlu Didisinfeksi? Panduan Lengkap Kapan, Mengapa, dan Hal yang Perlu Diketahui

Air sumur tidak selalu perlu didisinfeksi secara rutin. Namun, disinfeksi dapat diperlukan pada kondisi tertentu, seperti setelah banjir, setelah perbaikan sumur, ketika hasil uji menunjukkan adanya kontaminasi mikrobiologis, atau setelah ditemukan potensi masuknya pencemar. Keputusan melakukan disinfeksi sebaiknya didasarkan pada evaluasi kondisi sistem air, bukan hanya penampilan fisik air.

Menjaga kualitas air sumur tidak hanya bergantung pada kejernihan air atau kebersihan tandon. Dalam kondisi tertentu, air yang terlihat normal tetap dapat memerlukan penanganan tambahan apabila terdapat risiko kontaminasi mikrobiologis. Salah satu tindakan yang sering dibahas adalah disinfeksi air. Namun, masih banyak pertanyaan yang muncul di masyarakat.

Apakah setiap air sumur harus didisinfeksi?

Apakah disinfeksi perlu dilakukan setiap bulan?

Atau cukup dilakukan ketika terjadi kondisi tertentu?

Jawabannya bergantung pada sumber air, kondisi lingkungan, konstruksi sumur, hasil pemeriksaan kualitas air, serta adanya faktor-faktor yang meningkatkan risiko kontaminasi.

Artikel ini membahas kapan disinfeksi air sumur perlu dipertimbangkan, perbedaannya dengan pembersihan biasa, serta kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Insight: Disinfeksi bukan pengganti perawatan sumur. Jika sumber kontaminasi tidak diperbaiki, masalah dapat muncul kembali meskipun air telah didisinfeksi.

Apa Itu Disinfeksi Air?

Disinfeksi adalah proses untuk mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme pada air menggunakan metode tertentu.

Tujuan utamanya adalah membantu mengendalikan risiko mikrobiologis sehingga kualitas air menjadi lebih terjaga sesuai kebutuhan penggunaannya.

Penting untuk membedakan disinfeksi dengan proses lainnya:

·      Penyaringan bertujuan untuk mengurangi partikel atau sedimen.

·      Pembersihan bertujuan untuk menghilangkan kotoran, lumut, biofilm, atau endapan dari permukaan.

·      Disinfeksi bertujuan untuk mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme.

Ketiga proses tersebut memiliki fungsi yang berbeda dan sering kali saling melengkapi.

Apakah Semua Air Sumur Perlu Didisinfeksi?

Tidak.

Tidak semua air sumur memerlukan disinfeksi secara rutin.

Apabila sumber air terlindungi dengan baik, konstruksi sumur memenuhi persyaratan, sistem penyimpanan terawat, dan hasil pengujian kualitas air menunjukkan kondisi yang baik, disinfeksi berkala belum tentu diperlukan.

Sebaliknya, pada kondisi tertentu, disinfeksi dapat menjadi bagian dari upaya pengelolaan kualitas air.

Karena itu, keputusan melakukan disinfeksi sebaiknya tidak didasarkan hanya pada warna atau kejernihan air.

Kapan Disinfeksi Perlu Dipertimbangkan?

Beberapa kondisi berikut dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kebutuhan disinfeksi.

Setelah Terjadi Banjir

Air banjir dapat membawa lumpur dan berbagai kontaminan dari lingkungan sekitar. Apabila banjir mencapai area sumur atau tandon, evaluasi kualitas air perlu dilakukan sebelum air digunakan kembali seperti biasa.

Setelah Perbaikan Sumur

Perbaikan konstruksi sumur, penggantian pompa, atau pekerjaan pada sistem perpipaan dapat menjadi waktu yang tepat untuk mengevaluasi kualitas mikrobiologis air.

Setelah Hasil Uji Menunjukkan Kontaminasi

Apabila pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya indikator pencemaran mikrobiologis, disinfeksi dapat menjadi salah satu langkah pengelolaan setelah penyebab kontaminasi diidentifikasi.

Setelah Masuknya Air Permukaan

Masuknya air hujan, genangan, atau limpasan dari lingkungan ke dalam sumur dapat meningkatkan risiko perubahan kualitas mikrobiologis air.

Saat Terjadi Gangguan pada Sistem Penyimpanan Air

Tandon yang terbuka, retak, atau jarang dibersihkan dapat meningkatkan risiko penurunan kualitas air sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap keseluruhan sistem.

Langkah yang Sebaiknya Dilakukan Sebelum Disinfeksi

Disinfeksi akan lebih efektif apabila dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan kualitas air secara menyeluruh. Sebelum memutuskan melakukan disinfeksi, beberapa langkah berikut sebaiknya dipertimbangkan.

Identifikasi Penyebab Masalah

Cari tahu terlebih dahulu mengapa kualitas air berubah.

Beberapa kemungkinan penyebab antara lain:

·      Banjir.

·      Retakan pada sumur.

·      Masuknya air permukaan.

·      Tandon yang kotor.

·      Kerusakan sistem perpipaan.

Mengetahui penyebab utama membantu mencegah masalah yang sama terulang kembali.

Bersihkan Tandon dan Sistem Penyimpanan Air

Disinfeksi tidak menggantikan pembersihan fisik.

Apabila terdapat:

·      Endapan.

·      Biofilm.

·      Lumut.

·      Kotoran.

Lapisan tersebut sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu agar proses pengelolaan kualitas air menjadi lebih efektif.

Lakukan Uji Kualitas Air Bila Diperlukan

Jika terdapat dugaan kontaminasi mikrobiologis, pengujian laboratorium memberikan dasar yang lebih objektif dalam menentukan langkah selanjutnya.

Perbaiki Sumber Kontaminasi

Apabila terdapat retakan pada sumur, tutup tandon yang rusak, atau jalur masuk air permukaan, perbaikan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan upaya pengelolaan kualitas air.

Insight: Disinfeksi tanpa memperbaiki sumber kontaminasi sering kali hanya memberikan hasil sementara. Penyebab utama tetap perlu diatasi agar kualitas air dapat dipertahankan.

Kapan Sebaiknya Melakukan Uji Kualitas Air?

Pengujian kualitas air dapat dipertimbangkan apabila:

·      Terjadi banjir.

·      Sumur baru selesai dibangun.

·      Sumur selesai diperbaiki.

·      Air mengalami perubahan warna, bau, atau rasa.

·      Hasil evaluasi menunjukkan adanya potensi kontaminasi.

·      Air digunakan sebagai sumber utama kebutuhan rumah tangga.

·      Sudah lama tidak pernah dilakukan pengujian.

Pengujian membantu menentukan apakah diperlukan tindakan lanjutan, termasuk disinfeksi atau bentuk pengelolaan lainnya.

Kesalahan yang Sering Dilakukan

Langsung Melakukan Disinfeksi Tanpa Evaluasi

Disinfeksi sebaiknya didasarkan pada kondisi sistem air, bukan hanya asumsi.

Mengabaikan Pembersihan Tandon

Biofilm, endapan, dan lumut yang dibiarkan menempel dapat mengurangi efektivitas proses disinfeksi.

Tidak Memperbaiki Konstruksi Sumur

Jika penyebab kontaminasi berasal dari retakan atau masuknya air permukaan, masalah dapat kembali muncul setelah disinfeksi selesai.

Tidak Pernah Menguji Air

Tanpa hasil pengujian, kondisi mikrobiologis air sulit dipastikan secara objektif.

Expert Tip: Catat setiap kejadian yang berpotensi memengaruhi kualitas air, seperti banjir, renovasi sumur, atau perbaikan sistem perpipaan. Informasi ini akan membantu saat mengevaluasi kapan pengujian atau tindakan lanjutan perlu dilakukan



Referensi

1. World Health Organization (WHO). Guidelines for Drinking-water Quality, Fourth Edition, incorporating the first and second addenda.

2. World Health Organization (WHO). Water Safety Plan Manual.

3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Healthy Water – Drinking Water.

4. United States Environmental Protection Agency (EPA). Ground Water and Drinking Water.

5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan PP Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan.

6. American Water Works Association (AWWA). Water Quality and Treatment: A Handbook on Drinking Water.



Disinfeksi merupakan salah satu bagian dari pengelolaan kualitas air, bukan solusi yang harus dilakukan secara rutin pada setiap sumur. Keputusan untuk melakukan disinfeksi sebaiknya didasarkan pada hasil evaluasi kondisi sistem air, potensi kontaminasi, serta bila diperlukan didukung oleh hasil pengujian kualitas air.

Selain disinfeksi, menjaga konstruksi sumur, membersihkan tandon secara berkala, memperbaiki sumber kontaminasi, dan memantau kualitas air merupakan langkah penting untuk mempertahankan kualitas air rumah tangga dalam jangka panjang.

Aquapress berkomitmen menyediakan informasi edukatif berbasis referensi ilmiah mengenai kualitas air, sanitasi, dan pengelolaan air rumah tangga agar masyarakat Indonesia dapat memahami kapan tindakan tertentu memang diperlukan dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang sebenarnya.

Blog dan Artikel Terkait

Lihat Lainnya
Apa Itu NaDCC? Pengertian, Cara Kerja, Fungsi, dan Penggunaannya dalam Disinfeksi Air.

Apa Itu NaDCC? Pengertian, Cara Kerja, Fungsi, dan Penggunaannya dalam Disinfeksi Air.

NaDCC (Sodium Dichloroisocyanurate) adalah senyawa berbasis klorin yang digunakan sebagai bahan disinfeksi air. Ketika dilarutkan dalam air, NaDCC melepaskan klorin aktif secara bertahap sehingga membantu mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme sebagai bagian dari proses pengolahan air sesuai prosedur dan dosis yang berlaku.

7 Agustus 20265 min read
Apa Itu Klorinasi Air? Pengertian, Cara Kerja, Jenis Klorin, dan Manfaatnya.

Apa Itu Klorinasi Air? Pengertian, Cara Kerja, Jenis Klorin, dan Manfaatnya.

Klorinasi air adalah metode disinfeksi yang menggunakan senyawa berbasis klorin untuk membantu mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme dalam air. Metode ini telah digunakan secara luas dalam berbagai sistem pengolahan air dan merupakan salah satu pendekatan yang direkomendasikan dalam banyak aplikasi pengelolaan kualitas air sesuai standar yang berlaku.

7 Agustus 20265 min read
Apa Itu Filtrasi Air? Pengertian, Cara Kerja, Jenis Filter, dan Perbedaannya dengan Disinfeksi.

Apa Itu Filtrasi Air? Pengertian, Cara Kerja, Jenis Filter, dan Perbedaannya dengan Disinfeksi.

Filtrasi air adalah proses penyaringan yang bertujuan mengurangi partikel, sedimen, dan material tersuspensi dari dalam air menggunakan media filter tertentu. Filtrasi merupakan salah satu tahapan penting dalam pengolahan air dan sering dikombinasikan dengan proses lain seperti disinfeksi untuk membantu menghasilkan kualitas air yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.

7 Agustus 20264 min read
Apa Itu Disinfeksi Air? Pengertian, Tujuan, Metode, dan Perbedaannya dengan Filtrasi

Apa Itu Disinfeksi Air? Pengertian, Tujuan, Metode, dan Perbedaannya dengan Filtrasi

Disinfeksi air adalah proses untuk mengurangi atau menonaktifkan mikroorganisme yang dapat memengaruhi keamanan air menggunakan metode fisik maupun kimia. Disinfeksi merupakan salah satu tahapan penting dalam pengolahan air, tetapi tidak menggantikan proses penyaringan (filtrasi) maupun pengolahan air secara keseluruhan.

7 Agustus 20264 min read

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Pemakaian Aquapress tergantung kondisi air, disarankan pertama kali yaitu 2 tablet untuk 1 kubik (1000 liter) air. Selanjutnya untuk pemeliharaan harian cukup 1 tablet sehari.

Aquapress tidak bisa membersihkan lumut, tetapi dapat membunuh mikroorganisme (termasuk spora alga/lumut) dan membantu mencegah pertumbuhan lumut baru bila digunakan secara rutin.

Setelah tablet Aquapress dimasukkan ke tandon, air tidak perlu dibuang atau dikuras karena air sudah bebas kuman dan bakteri sesuai penggunaan yang dianjurkan.

Ya. Air yang sudah diberi Aquapress aman digunakan untuk MCK karena membantu menjaga kualitas air dari bakteri, virus, kuman, dan mikroorganisme lainnya. Aquapress digunakan untuk desinfeksi air, bukan untuk air minum langsung.

Tidak. Aquapress berbeda dengan kaporit maupun tawas karena menggunakan bahan aktif NaDCC yang diakui WHO dan UNICEF serta tidak mengubah pH air (pH netral).

Air dari tandon yang telah diberi Aquapress dapat digunakan untuk akuarium atau kolam ikan selama digunakan sesuai dosis yang tepat.

Bisa. Untuk pemakaian awal disarankan 2 tablet untuk perkiraan 1 kubik air, kemudian cukup 1 tablet per hari untuk 1 kubik air sebagai pemeliharaan.